Sabtu, 02 Desember 2017 16:29
Print

Setelah Desember tahun lalu, Sabtu Pagi (02/12/2017) kembali IAIN Tulungagung kembali mengukuhkan seorang guru besar. Kali ini adalah H. A. Hasyim Nawawie, dikukuhkan sebagai guru besar bidang Ilmu Fiqh dalam Rapat Senat Terbuka IAIN Tulungagung yang dipimpin oleh Rektor IAIN Tulungagung, Maftukhin. Hadir dalam acara tersebut para ulama, kyai dari pondok pesantren dan pejabat daerah dari Tulungagung, Trenggalek, Kediri dan Blitar.

Sebelum dikukuhkan, Hasyim Nawawie menyampaikan orasinya di depan segenap sivitas akademika IAIN Tulungagung dan juga undangan yang hadir. Dalam orasi yang mengambil tema Dinamisasi Fiqh di Bumi Nusantara, dia menyampaikan tentang wajah dinamisasi fiqh di bumi Nusantara. Menurutnya terapan fiqh di bumi nusantara yang dimaksud adalah fiqh yang khas ala Indonesia, memiliki ikatan intim dengan nilai tradisi lokal, budaya dan adat istiadat di tanah air. Karakter ini menunjukkan tumbuh suburnya fikih yang bersinergi dengan kearifan lokal di Nusantara, yang tidak melanggar ajaran Islam, namun justru memperkaya dan menghubungkan ajaran syari’ah dengan tradisi dan budaya yang muncul secara bertahap.

“Satu ciri khas model fiqh dinamis di bumi Nusantara adalah mengedepankan jalan tengah yang moderat, tidak ekstrim, inklusif, toleran dan mampu berdampingan secara damai dengan produk hukum lokal, bahkan dengan penganut agama lain,” kata Hasyim.

Dalam konteks nusantara, fiqh madzhab Indonesia menempati posisi yang setara dengan tempat di mana wahyu pertama diturunkan (Arab). Fiqh Indonesia melambangkan dan mencakup kebudayaan Islam di Indonesia karena fiqh di bumi nusantara terbentuk dengan beragam wajah yang tidak homogen. Antara satu daerah dengan daerah lain memiliki ciri khas yang berbeda namun memiliki nafas yang sama. Artinya bahwa dinamisme fiqh di bumi Nusantara tidaklah anti dengan fiqh produk Arab, akan tetapi fiqh di bumi Nusantara bertujuan melindungi bangunan hukum dengan memahaminya secara kontekstual.

Sementara itu, Rektor IAIN Tulungagung, Maftukhin dalam sambutannya menyampaikan, bahwa ini adalah kali keenam IAIN Tulungagung mengukuhkan guru besar. Yang istimewa Hasyim Nawawie juga merupakan guru besar bidang ilmu fiqh yang pertama di IAIN Tulungagung. “Dengan perkembangan IAIN Tulungagung yang semakin pesat ini dia berharap dari setiap program studi nantinya ada guru besarnya,” kata Rektor.

Rektor juga menjelaskan bahwa ilmu Fiqh merupakan satu dari piramida keilmuan Islam di samping tauhid dan tasawuf. Dikatakannya bahwa ilmu fiqh adalah ilmu tertua, dan mengalami perkembangan yang luar biasa dan dinamis. Hal tersebut karena fiqh merupakan salah satu dari tiga ilmu tersebut yang paling bersentuhan dengan kehidupan manusia, sehingga juga sering mengalami ketegangan sebagaimana dinamika yang ada dalam kehidupan manusia. Dengan ketegangan tersebut kemudian muncul harmonisasi. Dan harmonisasi itu sudah begitu lama terjadi di Indonesia.

Dijelaskan juga oleh Rektor bahwa Islam masuk ke nusantara dengan sufistik, sehingga fiqh di nusantara juga fiqh sufistik sebagaimana fiqh yang diajarkan oleh Imam Syafi’i. Maka dari itu Islam bisa dengan mudah masuk ke Indonesia. Dengan demikian, Rektor mengajak untuk bersama-sama membangun Islam di nusantara ini dengan sesuatu yang sesuai dengan karakter nusantara, Islam yang toleran dan moderat serta jauh dari hal-hal yang bersifat radikal dan cenderung mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. (humas)

Comments  

 
0 # Jauhar 2017-12-05 06:28
bagus
Reply | Reply with quote | Quote
 

Add comment

Security code
Refresh