Senin, 20 November 2017 12:24
Print

Tulungagung –Senin Pagi (20/11/2017) Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) melakukan visitasi akreditasi terhadap jurusan Manajemen Zakat dan Wakaf (MAZAWA) IAIN Tulungagung. Ada dua assesor dari BAN-PT yang melakukan visitasi tersebut yakni Deden Makbullah dari UIN Raden Intan Lampung dan Shodiq Abdullah dari UIN Walisongo Semarang.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Tulungagung, Dede Nurrohman dalam sambutannya saat membuka acara visitasi menyampaikan, pihahnya mohon maaf beberapa pejabat tinggi di IAIN Tulungagung tidak bisa hadir karena menghadiri undangan acara rutin di Kementerian Agama RI di Tangerang.

Tentang keberadaan jurusan MAZAWA, Dekan FEBI menjelaskan bahwa sebenarnya jurusan ini berdiri pada tahun 2014 dan berada di bawah naungan Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum (FASIH) IAIN Tulungagung dengan nama Zakat dan Wakaf (ZAWA). Namun karena pada 2016 ada perubahan nomenklatur dan gelar dari SHI menjadi SE, maka Zawa tidak ada lagi berganti Manajemen Zakat dan Wakaf, sekaligus berpindah fakultas ke FEBI.

Sebenarnya ada beberapa masalah di beberapa perguruan tinggi karena memang ZAWA tidak dilahirkan oleh FEBI. Proposal pendiriannya pun juga tidak dari FEBI, sehingga FEBI di beberapa PTKIN menolak untuk menaunginya. Namun Dede menjelaskan, bahwa di IAIN Tulungagung tidak demikian, yakni tetap memegang komitmen atas keberadaannya dengan mengubah kebijakan yaitu merubah nama dan memindah fakultasnya.

“Kebijakan tersebut ternyata tidak menjadi masalah bagi jurusan ini, bahkan justru membawa perkembangan positif, yakni bertambahnya jumlah mahasiswa pendaftar di jurusan tersebut”, terang Dekan FEBI.

Salah satu assesor, Deden Makbullah dalam sambutannya mengatakan, bahwa sebenarnya yang terpenting dari keberadaan jurusan MAZAWA bukan pada jumlah mahasiswanya yang banyak. Menurutnya jurusan ini jangan sampai hanya membentuk ahli-ahli dalalm bidangnya, namun juga bisa memberi contoh untuk gemar sedekah dan berzakat. Jadi harapannya mereka juga bisa gemar berwirausaha sehingga menjadi kaya dan gemar juga membayar zakat sehingga memberi contoh bagi masyarakat sekitarnya.

“Jadi tidak perlu banyak-banyak mahasiswa. Belum lagi juga harus dipertimbangan rasio jumlah dosen dengan mahasiswa. Jangan euforia menerima mahasiswa yang banyak meski sudah alih status,” kata Deden.

Mengenai proses akreditasi, Deden menyebutkan, bahwa pihaknya sebenarnya sudah mencermati borang yang telah dikirim ke BAN-PT dan sekaligus sudah mengkonfirmasinya. Namun mereka juga harus tetap melakukan observasi ke fasilitas yang dimiliki antara lain laboratorium, perpustakaan dan juga mahasiswanya.

Sementara itu, assesor BAN-PT yang kedua, Shodiq Abdullah menambahkan bahwa akreditasi tidak sekedar berorientasi sampai nilai saja, tapi rekomendasi apapun dari proses akreditasi ini adalah yang utama untuk perbaikan kualitas jurusan. Harapannya, supaya nantinya jurusan yang diakreditasi bisa memberikan pendidikan yang berkualitas. “Jangan sampai PTKIN hanya menjadi kelas dua, namun juga bisa menjadi pilihan utama bagi masyarakat,” pungkas Shodiq. (humas)

Add comment

Security code
Refresh