Rabu, 19 Juni 2019 11:15
Print

Tulungagung (Rabu, 19 Juni 2019), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakt (LP2M) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung menggelar Lecture Series 1st bertajuk "Academic Writing For Internasional Publication", dipantik oleh narasumber utama Rektor UIN Antasari Banjarmasin Prof. Dr. H. Mujiburrahman, M.A. Peserta tendaftar pada acara ini berjumlah 100 lebih berdasarkan jumlah yang tertera dalam absensi, dan masih banyak pula peserta yang hadir atau mendaftar pada waktu acara berlangsung.

Dr. Muhammad Muntahibun Nafis, M.Ag., sebagai Moderator menyampaikan ketika membuka acara, bahwa Lectur Series 1st, ini dilaksanakan untuk menunjang produktivitas karya tulis ilmiah terutama dalam publikasi Jurnal nasional maupun taraf level internasional pada atmosfer kampus yang notabene digadang-gadang sebagai produsen ilmu pengetahuan. Menyambung Lecture Series 1st ini, pada tanggal 20 juni 2019 akan dilanjutkan dengan agenda Lecture Series 2nd, acara yang akan bekerja sama antara LP2M IAIN Tulungagung, Pascasarjana IAIN Tulungagung dan Program Doktoral S3 Program Studi SII.

Pada makalah yang disampaikan, Prof. Dr. Mujiburrohman, MA, memantik peserta dengan sebuah pertanyaan "Mengapa menulis di jurnal? Dan mengapa harus menyuruh mahasiswa membaca jurnal?" Pertanyaan itu terpantik lantaran masih minimnya dosen dan mahasiswa yang mengenal jurnal serta signifikansi yang dimuat oleh artikel jurnal. Beberapa fungsi yang disebutkan oleh rektor UIN Antasari Banjarmasin tersebut diantaranya, pertama artikel jurnal memiliki peran sebagai Dokumentasi Karya Tulis, kedua sebagai Disseminasi (penyebarluasan ilmu) dan terakhir sebagai Sertifikasi (pengakuan kepakaran seseorang).

Prof. Dr. H. Mujiburrahman, MA menjelaskan bahwa Ilmu itu harus bersifat terbuka, supaya bisa berguna bagi siapapun. Oleh karena itu, keberadaan jurnal ilmiah dan publikasi online maupun offline diperlukan agar konten dan penawaran yang terkandung di dalamnya mampu dijangkau lebih masif. Karena itulah, menulis merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat, sebab mampu berguna untuk siapapun.

Menulis itu terkadang sangat sulit, sebab penulis harus bisa menyesuaikan diri kepada audiens yang menjadi bidikannya sebagai pembaca. Contoh saja ketika menulis di koran, menggunakan gaya bahasa yang rumit dan susah dipahami oleh kalangan awam. Padahal, banyak pembaca koran yang datang dari berbagi kalangan entah akademisi atau tukang becak sekalipun. Prof. Mujiburrahman menyontohkan bahwa ketika beliau menulis di kolom surat kabar Banjarmasin Pos yang tidak pernah absen seriap pekannya, maka tulisan beliau harus bisa menjangkau dari lulusan SD hingga profesor. Aturan ini tentu berbeda ketika seseorang menulis karya ilmiah. Pembaca karya ilmiah kemungkinan besar adalah para profesional dan akademisi, sebab tidak semua kalangan tertarik dengan bahasan yang dikaji dalam bentuk ilmiah. Memang banyak akademisi mengatakan semakin rumit bahasa plastik dalam karya tulis, maka semakin ilmiah karya tulis tersebut. Itu anggapan yang salah, ujar Prof. Dr. Mujiburrahman. Justru semakin ilmiah karya tulis itu, seharusnya semakin jelas dan mudah dipahami, bukan semakin rumit untuk dipahami.

Dalam sela- sela perbincangan panjang Prof. Dr. Mujiburrahman, memberi tips dalam memilih jurnal yang bereputasi tinggi. Dalam memilih jurnal, Pertama yang harus diperhatikan adalah Usia jurnal tersebut (semakin lama usia jurnal semakin bereputasi), konsistensi penerbit, kutipan orang terhadapnya, editor dan editor board-nya, para penulisnya, lembaga penerbitnya dan sudah terindex tidaknya. Berdasarkan poin-poin penting tersebut penulis bisa tahu mana yang sudah bereputasi dan mana yang masih beranjak menuju reputasi yang lebih tinggi. Berdasarkan beberapa poin penting tersebut, bukan berarti penulis harus sangat selektif, pilih-pilih jurnal sebagai tempat publikasi, ujar prof. Dr. Mujiburrahman, "Saya bukan tipikal orang yang suka pilih-pilih jurnal untuk publikasi."

Di tengah perbincangan, Prof. Dr. Mujiburrahman, menyinggung kebiasaan orang Indonesia yang suka pilih-pilih jurnal bereputasi tetapi mudah sakit hati ketika ditolak pengelola jurnal untuk dipublikasi dalam jurnalnya. Dalam artian, imbuh Prof. Dr. Mujiburrahman, Orang indonesia ini belum siap untuk berkembang di taraf internasional Publikasi Karya Ilmiah. "Kita masih lemah dalam menerima kritikan dari promotor. Merasa minder ketika tulisan kita dicoret-coret. Padahal itu adalah tanda beberapa hal yang bisa dijadikan sebagai bahan revisi agar lebih baik." Beliau juga menambahkan bahwa kompetisi di dunia internasional sangat ketat. Di negara maju, dosen terbiasa memberikan feedback kepada makalah mahasiswanya. Sehingga kritikan maupun tambahan apapun sudah terbiasa didapatkan oleh mereka.

Di akhir, beliau menyampaikan bahwa menulis membutuhkan keistikomahan. Sebab istikomah lebih baik dari seribu karamah, tambah beliau. Tanpa istikomah, academic writing tidak bisa berjalan. Selain itu, masyarakat kita membutuhkan passion dalam memproduksi ilmu pengetahuan. Hal ini yang masih belum digenggam oleh para akademisi. Juga, budaya kita masih condong kepada budaya lisan, sedangkan orang-orang di negara maju sudah terbiasa dengan budaya tertulis.