Mendiseminasikan Bibit Peneliti Manuskrip di IAIN Tulungagung

Jumat, 26 April 2019 21:45
Print

Tulungagung - Kamis 25 April 2019 Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Tulungagung menggelar acara bertajuk “Peluang dan Tantangan Kajian Manuskrip Nusantara.”Acara tersebut diadakan oleh LP2M berkolaborasi dengan Digital Repository of Endagered and Affected Manuscripts in Southeast Asia (DREAMSEA), Institute for Javanese Islam Research (IJIR) IAIN Tulungagung, dan Center of Fikih Nusantara (C-Finus) IAIN Tulungagung. Kegiatan tersebut dilakasanakandi Aula Rektorat Lantai III IAIN Tulungagung.

Pemantik dalam acara tersebut adalah Muhammad Nida’ Fadlan yang merupakan member aktif dalam proyek-proyek penelitian DREAM-SEA sekaligus pengelola Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Nida’, panggilan akrab Muhammad Nida’ Fadlan, sengaja diundang ke IAIN Tulungagung untuk memantik semangat kalangan sivitas akademika IAIN Tulungagung untuk “mengawetkan” manuskrip-manuskrip kuno Nusantara.

Dalam sambutannya, Ketua LP2M IAIN Tulungagung, Ngainun Naim menyampaikan, bahwa kedatangan Nida’ diharapkan menjadi pemantik teman-teman mempelajari dan menjadikan manuskrip kuno sebagai sumber penelitiannya.

Nida’mengatakan bahwa mempelajari manuskrip berarti memilih jalan sunyi. Ia dalam prolognya sedikit menceritakan saat masih menempuh kuliah S2 dulu yang notabene jurusan filologi merupakan jurusan paling tidak ada peminatnya. Teman sekelasnya pada saat itu hanya tiga orang. Angkatan masuk kuliah dibawahnya malah tidak ada yang memilih jurusan tersebut. “Baru memiliki adik kelas menjelang dua tahun kelulusan”, tambah Nida.

Mempelajari manuskrip, seperti aktivitas yang dijalani Nida di DREAM-SEA dan PPIM, laiknya pekerjaan sosial yang mulia. Kegiatannya berkeliling kemana manuskrip berada. Terkadang, jika ada laporan dari masyarakat tentang keberadaan manuskrip, dengan sigap mereka akan menjadwal untuk turun ke lapangan.

Di hadapan seratus peserta lebih, Nida’ menyampaikan ‘rumus’ untuk menjadi peneliti manuskrip. “Sebagai orang yang ingin bisa mempelajari manuskrip, modal yang harus dimiliki adalah bahasa dan ilmu filologi,”katanya.Sontak riuh tepuk tangan peserta meramaikan ruangan.

Secara keseluruhan acara berlangsung santai dan para peserta menyimak dengan mimik wajah ‘jatuh cinta’. Tampak wajah-wajah calon peneliti manuskrip terpancar dari sebagian peserta. Seperti yang diharapkan, dilangsungkannya Serial Manuskrip Nusantara ini memang untuk memperbanyak peneliti-peneliti manuskrip. Gerakan mempelajari manuskrip yang mulai dibangun diharapkan semakin berkembang di sivitas akademika IAIN Tulungagung. Apalagi, manuskrip adalah salah satu sumber bukti peradaban sebuah bangsa. IAIN Tulungagung harus mendiseminasikan penelitian manuskrip laiknya motto kampus IAIN Tulungagung sebagai Kampus Dakwah dan Peradaban. Salam.(lp2m/pul)