Menghadapi Era Disruptif, Menyiapkan Generasi Kreatif

Kamis, 15 November 2018 13:53
Print

Tulungagung - Era disruptif sudah di depan mata. Generasi muda harus tanggap, gesit, lincah, cerdas, kreatif, dan inovatif. Jika tidak, akan tertinggal dan tertelan zaman.

IAIN Tulungagung berkomitmen menyiapkan diri menghadapi era tersebut, baik dalam lingkup kelembagaan institusi maupun pembentukan generasi. Untuk itu, bertempat di Gedung Arif Mustakim lantai 6, IAIN Tulungagung menggelar seminar nasional dengan mendatangkan tokoh penting pendidikan Indonesia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Nuh, DEA pada Rabupagi (14/11/2018).

Penyesuaian tuntutan era disruptif tidak hanya dalam bidang teknologi, melainkan juga pendidikan. Dr. Binti Maunah, M.Pd.I mengungkapkan, “Tema seminar kali ini adalah Pendidikan Agama Menjawab Tantangan Era Disruptif. Bagaimana peran guru, bagaimana pendidik dalam proses pembelajaran memiliki keterkaitan erat dalam menjawab perkembangan zaman.”

Paparan Dekan FTIK IAIN Tulungagung ini menegaskan bahwa pendidik, akademisi, dan institusi perlu bersinergi dalam menjawab tantangan zaman serba inovasi berkecepatan tinggi.

“Generasi sekarang adalah generasi android. Pada masa mendatang, bukan dosen yang menguasai mahasiswa, tetapi mahasiswa yang akan menguasai pembelajaran,” ujar Dr. Maftukhin, M.Ag., rektor IAIN Tulungagung menambahkan saat membuka seminar.

Seminar disambut sangat meriah dan antusias. Dengan tema yang kekinian dan pemateri yang kompeten, seminar ini mampu menjadi magnet. Tercatat 600 mahasiswa S-1 dari berbagai jurusan dan sekitar 100 dosen hadir pada kesempatan berharga ini.

Profesor Nuh membuka sesi seminar dengan begitu menawan. Seluruh peserta ikut terhanyut dalam lagu Aku Memilih Setia yang sering dibawakan oleh Fatin Sidqia.

“Kesetiaan menjadi kunci keberhasilan,” ujar Profesor Nuh membuka percakapan disambut riuh tepuk tangan peserta seminar.

“Siapa pun yang tidak setia atas janji yang diucapkan akan menjadi awal kegagalan. Kita harus setia kepada negara, agama, dan keluarga,” tambahnya memperjelas.

Profesor Nuh mengungkapkan bahwa saat ini Indonesia harus menyiapkan generasi pemungkin, generasi yang tadinya melihat sesuatu itu tidak mungkin dengan paradigma berbeda menjadi tampak mungkin. Kalau sudah mungkin, segala sesuatu menjadi mudah diraih. Inilah tugas pemuda saat ini.

“Setiap generasi memiliki tugas kesejarahan sesuai dengan zamannya. Yang penting, ukirlah lembar sejarah itu dengan prestasi,” pesan Profesor Nuh.

“Oleh karena itulah saya tidak pernah memanggil Jokowi, saya tidak pernah memanggil Megawati, SBY, atau Sukarno, tetapi saya selalu memanggil Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, Gusdur, Bu Mega, Pak SBY, lalu Pak Jokowi. Itu bagian dari penghargaan kepada setiap orang yang pernah berjasa. Maka kunci kesuksesan yang kedua setelah kesetiaan harus bisa memberi penghargaan. Dengan pola pikir itu, kita bisa menghormati siapa pun yang pernah memiliki jasa, baik untuk instansi, bangsa, dan negara,” ungkap beliau lebih lanjut.

Profesor Nuh yang pada kesempatan ini menjadi pemateri tunggal menegaskan bahwa generasi pemungkin harus memiliki kesetiaan, rasa penghargaan, kerja keras, dan kecerdasan. Pendidikan harus berorientasi pada keutuhan kompetensi (‘and’ paradigm) antara sikap (attitude-tazyah), keterampilan (skill-tilawah), dan pengetahuan (knowledge-ta’lim).  

“Imajinasi itu sesungguhnya lebih penting dibandingkan dengan pengetahuan. Jika pengetahuan membahas hal-hal yang sudah diketahui, imajinasi itu membaca dan merencanakan yang akan terjadi pada masa mendatang. Oleh karena itu, kalau IAIN ingin menjadi leader harus punya daya imajinasi ke depan yang akan dikembangkan,” ungkap beliau lagi dengan mengutip kata-kata Albert Einstein.

“Belajarlah dari perusahaan Nokia dan Kodak. Tahun 90-an produk ini berjaya. Lalu ke mana sekarang? Siapa pun yang tidak mau beradaptasi, tidak ingin berubah, tidak mengikuti perubahan zaman, tidak ada inovasi, maka akan selesai, akan lose dan lost, hilang dan lenyap,” ungkapnya,” kata Profesor Nuh lagi.

Pengalaman memang menjadi guru yang berharga. Pengalaman perusahaan yang kalah dalam inovasi cukup menjadi pelajaran. Pengalaman penaklukan Bizantium di bawah pimpinan Sultan Mehmet II atau yang dikenal dengan nama El-Fatih juga menjadi contoh bagi generasi muda agar terus menempa diri menjadi generasi yang pemungkin. Dengan kecerdasan dan inovasi yang dilakukan, Bizantium yang semula berdiri kokoh, mampu diruntuhkan.

Seminar ditutup dengan pesan yang sangat menyentuh. Profesor Nuh berharap agar seluruh mahasiswa yang hadir di seminar ini selalu mengisi setiap waktu dengan prestasi walaupun itu sangat kecil karena yang sedikit akan menjadi bukit. Selain itu, beliau meminta agar seluruh peserta memuliakan orang tua, gemar bersedekah, bekerja keras, selalu beradapatasi dengan perubahan zaman, salat malam, dan memperbanyak salawat. Lagu untuk ibu yang diputar pada akhir paparan membuat peserta seminar hening dan menitikkan air mata. Seminar pun selasai pada pukul 12.10 WIB.(ftik for humas)