Khofifah Ingatkan Pentingnya Jaga Persatuan dan Kesatuan

Minggu, 23 September 2018 14:40
Print

Tulungagung – Gubernur Jawa Timur Terpilih, Khofifah Indar Parawansa menyatakan, bahwa seluruh elemen masyarakat Indonesia khususnya Jawa Timur memiliki pekerjaan rumah (PR) besar dalam menjaga persatuan dan kesatuan dalam tahun politik pada 2019 ini. Hal tersebut disampaikannya saat acara Silaturrahim dan Temu Wali Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2018/2019 pada Minggu (23/09/2018) di Halaman IAIN Tulungagung.

Khofifah mengambil contoh ada negara yang sepanjang kehidupannya hampir selalu diwarnai perbedaan pendapat yang berakhir dengan konflik yang berkepanjangan. Contohnya Palestina. Padahal hanya ada dua partai yakni Fatah dan Hamas. Dia juga mengajak melihat bagaimana keadaan di Lebanon di mana penduduknya yang hanya 6 juta ada 2 juta di antaranya yang ada di pengungsian. Selain itu saudara-saudara kita di timur tengah dan sebagian dari Afrika yang saat ini mengungsi ke Eropa juga sudah lebih dari 900 ribu orang.

“Persoalan dan konflik yang ada di negara-negara timur tengah hendaknya menjadi pelajaran penting bagi siapa semua bahwa perbedaan warna jangan menafikan persatuan. Perbedaan partai politik hendaknya menjadi warna-warni bunga di taman safari politik,” kata Khofifah.

Boleh bangsa ini memiliki beragam partai politik, memiliki stratifikasi sosial berbeda, suku berbeda dan trah berbeda. Namun itu semua diharapkan untuk tidak menjadikan perpecahan di antara kita.

Menurut Khofifah, perbedaan tersebut seharusnya bisa disatukan, apakah itu dengan ukhuwah bainal muslimin, maupun ukhuwan bainal madyan. Ukhuwan bainal muslimin yaitu persaudaran antar umat Islam. Ukhuwan bainal madyan yaitu persaudaraan antar agama-agama. Dan jika keduanya terjaga dengan baik maka persatuan dan kesatuan akan tetap terjaga.

Hal tersebut menurut Khofifah, itu semua akan terjalin dengan baik jika kita paham dan tahu tanggung jawa kita. Dia menyebut tanggung jawab tersebut ada tiga, yakni mas’uliyyah wathaniyah atau tanggung jawab kebangsaan, mas’uliyyah dinniyah atau tanggung jawab keagamaan serta mas’uliyyah ismai’ah atau tanggung jawab kemasyarakatan.

Ketiga tanggung jawab tersebut jika dikontekskan dengan Pancasila sangat sesuai. Terutama sila pertama yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Sehingga ini tidak menjadi tanggung jawab para da’i saja melainkan juga institutusi, ormas-ormas dan elemen strategis lainnya termasuk lembaga pendidikan seperti Institut Agama Islam Negeri Tulungagung ini.

“Jika tiga tanggung jawab itu melekat pada diri kita, pada tanggung jawah, dari manapun kita berasal serta di manapun kita berada maka ini akan menjadikan persatuan dan kesatuan bangsa ini tetap terjaga”, kata Khofifah optimis sebelum mengakhiri ceramahnya. (humas)